Kamis, 30 Juli 2015

Semoga kamu bisa membaca surat ini. Jika tak dapat membacanya ku harap kamu bisa merasakan kasih sayang di setiap deretan huruf – hurufnya. Karena sungguh kamu adalah karya tuhan yang ku perjuangkan lewat doa – doaku.


Hey, kamu perempuan manisku. Lesung pipimu selalu membuatku rindu. Tatap matamu di balik sepasang lensa bening dengan gagang hitam itu membuatku teduh. Jalanmu yang lucu membuatku selalu menggebu. Aku merasakan detak jantungku tiada beraturan saat bersamamu. 



Saat kamu di dekatku, aku merasakan bahwa kamu masih menyayangiku. Saat menghabiskan waktu bersama di danau, aku masih bisa merasakan pelukanmu dan tingkahmu yang menggemaskan. Menikmati menonton bersama yang sering kali akulah yang paling terlambat datang dan kamu menunggu dengan penuh kesal. Tetapi, kamu menungguku. Menunungguku dan menunggu. Meskipun kesal dan kamu tidak mengajakku bicara tetapi kita bergandengan tangan masuk menonton. Kamu menggengam tanganku saat kita bersama dan mengerjaiku karena film yang kamu pilih adalah film yang tak ku sukai. Aku tahu kamu mencintaiku dengan sifat terlambatku. Kamu mencintaiku saat itu, karena kamu menungguku meski kesal. Dan akhirnya kamu memaafkanku. Kamu adalah malaikat yang penuh sabar mengahadapiku.
“Bukan seberapa lama kisah kita bukan?, tetapi seberapa dalam perasaan itu. Perasaan kita”

Menghabiskan waktu bersamam adalah sebuah hal yang mewah. Meskipun hanya sebilang jari – jari tangan tetapi rasa itu mengendap dan menjadi tetap di dalam hati. Kita memang sudah tak bersama, tetapi kamu masih menyayangiku bukan.
          “Saat kamu masih mencintaiku, di saat itu pula aku masih di hatimu”

Dan seiring waktu aku mulai takut kehilanganmu. Berat rasanya kehilangan cinta daripada kehilangan tubuh fanamu. Kehilanganmu dulu yang pergi sangat ku ratapi dengan sangat sesal. Kehilangan kasih sayangmu. Kehilangan cinta dari perempuan sepertimu. Terasa berbeda karena aku juga mencintaimu. Tetapi aku tersadar, bahwa kehilangan cintamu lebih menyakitkan. Kamu masih menyayangiku, dan masih sangat menyayangiku. Itulah yang membuatku sakit sangat parah.
“Mungkin tuhan telah mengenalmu lebih baik. Karena saat sujud terakhirku namamulah yang paling sering di dengar Tuhan”

Tetapi jarak kita antara langit dan bumi. Tahukah kamu bahwa rasa sayangku kepadamu masih seperti sejak pertama kita bertemu. Kehilanganmu membuat seluruh kehidupanku tiada berdaya. Saat aku sendiri, Hanya tuhan yang menjadi penopang dan pemberi pundak.
“Lagi – lagi aku patah hati. Patah yang sangat dalam. Sehingga sulit membuatku jatuh cinta lagi”

Berusaha untuk terbiasa, mengikis semua kenangan yang telah di rangkai dengan sangat indah. Sepanjang jalan penuh kenangan. Sepanjang jalan penuh potretmu yang sangat jelas. Aku lelah menerima semuanya, tetapi percayalah akan selalu ada doa untukmu.

Tetaplah di hatiku, perempuan yang selalu ku banggakan. Kamu yang selalu ku banggakan di depan ibuku. Meski masa depan belum tergambar dengan sangat jelas tetapi aku akan berdoa semoga dapat menua bersamamu.

Tetaplah di hatiku, jika waktunya tuhan sang pemilik hati, pembolak balik perasaan dapat mempertemukan kita kelak dalam ikatan yang halal. Sekarang kita terpisah utnuk saling memperbaiki diri. Nanti saat waktunya tiba, aku percaya kita akan di pertemukan di waktu terbaik dalam rencanya. Aku percaya, tuhan tidak pernah ingkar bukan.
“kejarlah mimpimu, bahagiakan sepasang mata yang membuatmu hidup. Sepasang mata kehidupanmu. Dan entah kapan tuhan akan memberiku kesemnpatan juga untuk membahagiakannya kelak”.

Dan semoga kamu tak lupa ada aku yang selalu menyayangimu.  Meski tak bersama, aku percaya waktu tidak pernah abai. Biarlah aku saja yang menjadi penunggu setiamu. Meyapamu lewat sebuah doa di sepanjang jalanmu. Aku yakin jika kita akan di takdirkan, sejauh apapun jarak kita sekarang kelak akan di pertemukan oleh ikatan yang penuh keimanan. Namun jika kelak bukan kamu, tuhan pastinya telah mempersiapkan yang terbaik bagimu dan tentu saja untukku.

Tetapi selalulah menjadi perempuan yang aku kagumi. Jadilah perempuan yang bangga dengan kesederhanaan. Jadilah perempuan yang selalu tersenyum dan tertawa. Jadilah kebanggaan keluarga dan teman – temanmu. Aku disini mendoakanmu. Railah mimpi – mimpimu. Aku mencintaimu dalam diamku.
          “Percayalah aku tetap menyayangimu”




Sehingga biarlah aku disini menghidupakan kenangan kita lewat doa. Kenangan ku tepatnya saat bersamamu. Karena ku yakin dolah yang mampu merubah segala yang niscaya menjadi ada. Bairlah bayangmu yang selalu menemani setiap sepiku.  Akan ku hidupakan semua lewat doa – doaku untukmu. Dengan doa kamu hidup dalam diriku. Semoga kelak tuhan mempersatukan kita dalam ikatan apapun. Terima kasih pernah memberi kesempatan menjadi bagian dalam hidupmu. Aku beruntung pernah memilikimu.


Untuk malaikatku Wanda Rezilia Gendu’.....

Minggu, 26 Juli 2015




Aku sempurna terguncang. Seperti benturan keras kepada keteguhan hatiku. Aku tidak tahu akan menjadi benak apa ini yang mengutamakan kebatuan hati. Aku tidak berdaya dan menerimanya begitu saja.
“Kamu melelehkan hatiku, kamu menghancurkan batu di hatiku. Kamu sangat sempurna melakukannya”.    
Aku sempurna terguncang. Sempurna dan terjun bebas menghantam jantung kehidupanku. Sorot mata yang teduh dengan senyuman digigi mungilnya yang lucu membuatku takjub. Kamu telah menarik hatiku, seperti asteroid yang ditarik paksa oleh lubang hitam.
“Inikah perasaan menjaring udara itu. Atau jangan – jangan aku hanya berfantasi saja. Saat engkau melempar pandangan bahagia kelangit, engkau tak menemui apapun selain sebuah kebahagiaan”. 
Aku sempurna terguncang. Kamu tersenyum padaku. Membuat bunga – bunga yang gersang didalam hatiku menjadi bangkit dan hidup lagi. Membuat padang yang luas tandus ini menjadi siap untuk ditanami lagi.
“ada apa ini ? kenapa di dalam hatiku tercium wangi yang menyejukkan hati. Jangan – jangan ada yang telah menanam sebuah bunga disana. Atau bisa jadi kemarau yang panjang di dalam hatinya telah berganti menjadi musim semi penuh bunga - bunga”

Akusempurna terguncang. Senyummu yang merekah mengalahkan mentari. Entah di dimensi apa aku sekarang berpijak. Inikah dunia itu? Aku tidak mampu menguasai diri.  Yang Aku bungkam dan tidak bisa berucap apa pun. Atau jangan – jangan ini hanya sebuah ilusi sesaat. Sementara yang membuatku melambung tinggi jauh disana tidak mengetahuinya. Apakah kamu merasakannya?
“Apakah kamu setersiksaku sekarang? Atau jangan – jangan aku hanya bermimpi. Ini siksaan yang sangat indah bukan”.

Aku sempurna terguncang. Aku menyebutnya dengan perempuan pengasih. Apakah kamu menerimanya? Aku menyebutmu sebagai perempuan sederhana. Aku diam – diam memperhatikanmu. Aku diam – diam menyebutmu dalam doa.
“Mungkinkah kamu merasakan aliran doa keselamatan yang selalu ku ucapkan di depannya. Sebut saja kamu merasakannya dan aku sangat bahagia”.

Dan akhirnya aku sempurna terguncang dan aku bahagia. Aku sangat berbahagia saat hanya dengan melihatmu. Itu kebahagian yang sangat mewah buatku. Aku sangat berbahagia saat matamu secara tidak sengaja memandangku. Dan ku harap semoga saja jika kelak di takdirkan kita akan menyapa lebih lama. Saling pandang lebih lama dan akhirnya berdua bersama untuk selamanya.
“Dan akhirnya jika aku terguncang demimu, aku bahagia. Aku sangat bahagia”.
 
By : Lukman Rais
“Sesuatu yang di tanggalkan adalah sesuatu yang tidak perlu lagi dikenakan”

Blogroll

About